Trip To Cisarua Bandung Barat

Sudah lama vakum dari kehidupan luar yang liar tetapi mengasyikkan akhirnya mimin keluar kandang juga ibarat kodok kegirangan saat mendengar bunyi hujan, saat jatuh cinta dengan lawan jenis, kalau jadi serigala mimin mau teriak dah di bukit dengan latar bulan purnama "Auuuuu!!!!" Hilang sudah rasa jenuhku (huekss bersin).
Ini nih namanya buah Paprika
Hari itu juga mimin persiapan packing barang seperlunya. Kata teman saya bilang, "Ayo kemping sekalian di gunung (Burangrang) seru loh". Seru teman gue.
"Bener nih kita ke sana mau kemping?" Tanya gue. "Iya ayo kita kemping di sana".

Karena ragu, mimin gak bawa alat gunung. Dan beruntungnya gue gak usah bawa alat-alat gunung yang berat, sok-sok'an nih niat pada naik gunung pas udah nyampe di tujuan pada males, hujan lah, becek lah dan lain-lain haha.

Rencana awal kita tour naik dengan 2 motor total kita berempat. Karena partner gue ada kerjaan jadi gue sendiri naik motor dan ditemani satu motor oleh teman gue Marnes dan Wawan. Jam 4 sore kita jalan bertiga. Sesampainya di Subang langit sudah berwarna hitam. Hujan kecil rintik-rintik nih udah membasahi helm hmmm lalu kami pakai jas hujan deh. Teman gue si Wawan tidak bawa jas hujan, untungnya di jok ada jas hujan teman gue yang gak jadi. Sepanjang jalan daru Subang sampai Cisarua hujan tidak berhenti-berhenti hadeuh.

Walaupun teman gue pernah ke Cisarua tetap saja mereka masih lupa-lupa jalannya. Tapi kata Wawan teman yang satu ini kita akan dijemput di pertigaan jalan Parompong. Terus Gak sengaja saat menunggu jemputan, teman gue nyeletuk tentang rumah makan yang ada di seberang jalan, "plangnya Dapur Bambu tapi konsep ruangannya pakai beton dan besi". "Hahaha bener juga ya gak sesuai dengan judulnya". Obrolan yang tidak begitu lucu pun seakan-akan lucu bagi kami demi membunuh waktu saat menunggu jemputan.

Akhirnya datang juga sang juragan sayur bernama Kang Khaerudin. Nah, salah satu teman gue si Wawan tidak mau dibonceng lagi, dia langsung masuk mobil jemputan sang juragan. Apalah di kata gue ama Marnes kan naik motor dan kita lalu mengikuti mobil kang Khaeruddin dan Si Wawan dari belakang sampe menuju rumahnya yang lumayan jauh kayak mau naik gunung lagi cuma jalannya sudah di aspal. Setelah beberapa menit yang banyak akhirnya sampai juga. Kami lalu istirahat dan makan nasi padang yang dibeli oleh Kang Khae di rumahnya.

Esok paginya cuaca masih hujan. Niat kami ingin menaiki gunung Burangrang sirna sudah. Kata Kang Khae menuju ke sana cuma perlu 1-2 jam saja. Hujan mulai agak reda kami berangkat menuju bukit perkebunan sayur. Sang jurangan Kang Khae memetik paprika dari kebun hidroponiknya. Paprika adalah cabe yang menyerupai buah apel, cabe biasanya bentuk lonjong memanjang kalo paprika bulat seperti apel. Kami memetik paprika berwarna merah, kuning dan sedikit warna hijau.

Kami lalu melanjutkan ke bukit yaitu batas kebun dan hutan. Sepanjang jalan kami melihat pohon sayur seperti kembang kol, daun salada, dan bunga-bunga yang indah. Kami bersyukur bisa melihat langsung tanaman sayuran secara langsung, biasanya tau sayuran itu dari dapur emak gue yang sedang nyayur buat makan anak-anaknya.
Bang Wawan dan Bang Marnes

Sesampai di bukit kami keluarkan termos air serta kopi dan sereal ganjel perut yang sudah di ambil dari rumah juragan. Kami menyeruput minuman kopi di bukit slurrrp beuuhhh nikmat bro! Sambil melihat pemandangan ke bawah. Suasana desa di sini mengingatkan gue dengan film-film FTV di stasiun swasta yang sekali abis, mantap abis desa teman gue ini. Kalo boleh judul yang pas buat film syuting di sini itu "Juragan Sayur yang direbutin Cewek Kota" haha.
Kenalin ini Juragan paprika, Kang Khae
Saat di atas mimin lupa belum buang hajat jadi perut gue mules terus, teman gue menyarankan pergi aja ke atas bukit lagi biar safety tempatnya. Mimin langsung nurut aja pergi ke atas, setelah dekat dengan pohon-pohonan tiba-tiba ada lebah yang terbang di atas kepala mimin, waduh lebahnya lebih dari satu, mimin panik langsung menghalau lebah dari kepala sambil menghampiri kawan-kawan di bawah, "ada lebah!" Seru mimin. Benar saja lebah menghampiri teman-teman gue, mereka menutupi kepala dengan jaket. Kami tertawa puas saat kejadian ini. Rasa mules di perut pun hilang, aneh emang.

Karena ada lebah yang mengancam akhirnya kita turun bukit aja, coba bayangin kalo kena sentot tawon wadub gak bisa balik entar. Terus kejadian lucu berikutnya terjadi lagi, si Marnes tergelincir menghantam tanah yang becek, gubrakkk!! Kami tertawa tidak ada habisnya sampai-sampai terjatuh sampai lebih dari 3 kali. Alhasil ternyata sandal yang dipakai si Marnes bawahnya udah tipis. Syukur gue gak pake sendal yang itu, gue juga minjem sendal dan emang sendalnya sendal capit yang masih bagus yang gue pakai.

Udah nyampe rumah kita tiduran aja di rumah sampe nunggu hujan reda, si Juragan lagi sibuk telfonan dengan klien tentang pengiriman sayur.

Sepanjang jalan gue wawancara sedikit dengan juragan sayur yang satu ini.

Paprika itu apa sih Kang?

Paprika adalah jenis terong/cabai yang tumbuh di dataran tinggi tertentu jadi tidak sembarang nanam di mana aja.

Kang, nanam paprika kenapa harus pakai pelindung atas dari plastik bening?

Paprika ini kan sensitif ama hujan. Kalo kena hujan bisa rusak nih pohon. Makanya nanam paprika dibikin rumah selain itu juga paprika kan merambat jadi sekalian dikasih tali ke atas biar merambat ke atas. Tinggi paprika bisa sampe 2 meter lebih dan juga memudahkan pemetikan saat panen tiba.

Kapan pohon ini disiram?

Paprika ini kan di tanam pot plastik dan tanahnya pakai sekam (kulit beras yang dibakar), media tanahnya terbatas jadi harus rutin disiram tiap hari.

Bikin rumah-rumahan dari bambu dan plastik bening ini berapa lama bertahan?

Rumah plastik ini sebagai pelindung tanaman dari hujan ini bertahan sampai 3-4 tahun. Lumayan bikin rumahan ini abis 200jt.

Selain nanam paprika nanam apalagi?

Nanam sayuran lainnya seperti kembang kol, tomat, daun salada, bunga-bunga, cabe dll.

Di kirim ke mana ini sayuran?

Pelanggannya dari Jakarta, bokap gue kan usaha di Jakarta dan ada buka toko juga di sana. Pengiriman pakai mobil juga kalo kuota dari tanaman kita abis, bisa ngambil dari kebun sayur dari tetangga dengan harga yang disepakati, dan kita emang mobil dan pasaran, bisa dijual ke kita.

Waduh, mantap nih juragan yang satu ini hhe?

Hmmmmmm.....

Percakapan terakhirnya seperti biasa CANDA TIADA ABIS! ,,, ledek-ledekkan. Si juragan diledek bocah tua nakal. Emang dulu waktu kita sekolah bareng di pondok, beliau sebelumnya sudah lulus SMP di kampungnya. Si Wawan diledek telor ama si juragan, gegara kaki dengan betis yang besar dan ukuran tubuh yang pendek. "Kalo nanem si Wawan di kebon ini kayaknya tumbuh! Tumbuh betis gede haha, celetuk si Kang Juragan. Dan gue pun pasti kena ledekannya juga haahaa. Ya itung-itung nostalgia dengan teman yang udah lama gak ketemu, ledek-ledekkan biar lebih akrab.

Pesan terakhir nuhun buat numpang di rumahnya, makan juga enak-enak gak kelaparan. Pokoknya pelayanannya plus-plus deh. Kapan-kapan lagi gue mau ke sana lagi bareng teman-teman gue yang suka naik gunung dan kebetulan dari tempat ini katanya jalur daki puncak gunung Burangrang via Legok Haji kalo tidak salah ( tidak salah berarti bener y hehe).
Juragan tidak membiarkan kami kelaparan

Ouh iya waktu gue balik dari Cisarua menuju rumah emak gue di jalur ke arah Cileunyi, gue malah terus jalan sampai ke jalan parompong lembang, nah harusnya gue lewat jalan Bajuri yang ke arah Ledeng kan lebih deket ke arah Bandungnya. Yah, namanya juga kagak tahu hhe. Pokoknya nanti klo mau ke Cisarua dari rumah emak gue nanti gue akan lewat jalan Bajuri dari terminal Ledeng belok ke kiri ke arah jalan Sersan Bajuri, namanya jadi inget film Bang Bajuri dan si Oneng yang diperankan oleh Rieke Pitaloka.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »